Kamis, 11 Februari 2010

Regenerasi NII

Regenerasi NII

Membayangkan NII telah mati setelah kekalahan total tahun 1962 adalah kekeliruan. Meski begitu, membayangkan NII sekarang ini sama dengan NII ketika SM Kartosoewirjo memproklamasikannya tahun 1948 juga tidak tepat. Persamaannya terletak pada adanya doktrin-doktrin Islam sebagai dasar sebuah negara dan perlunya diterapkannya syariat Islam. Perbedaananya, perjuangan NII dulu dilakukan dengan perang militer. Kini terjadi perbedaan yang terletak pada sejumlah tafsir tentang konsep hijrah dan jihad, penggunaanfa’i (merampas harta orang kafir) dalam perjuangan, penggunaan kekerasan, dan pelebaran sasaran ke kalangan non-Islam seperti pengeboman gereja.
Perbedaan ini berawal ketika imam NII (SM Kartosoewirjo) ditangkap tahun 1962 dan kemudian dieksekusi. Holk H Dengel (1995) menyebutkan setelah itu terjadi pernyataan sumpah setia dari para komandan militer NII kepada RI yang jumlahnya cukup banyak.Meski begitu, tidak semua elit NII setuju dengan ikrar bersama itu. KH. Ahmad Sobari misalnya, yang pernah menjadi bupati NII di Priangan Timur, menurut ICG (1005) melanjutkan perjuangan NII dengan mendirikan NIT (Negara Islam Tejamaya) dan ditangkap tahun 1978.
Abdul Fatah Wirananggapati, yang saat itu menjabat sebagai KUKT NII (Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi), dianggap oleh pengikutnya sebagai pengganti imam NII yang syah. Aturan suksesi jadi rumit karena pemimpin-pemimpin senior melakukan ikrar setia ke RI, dan padahal penggantinya harus purbawisesa penuh. Fatahlah kemudian yang dianggap syah oleh pengikutnya untuk menggantikan imam, karena dia pemimpin tertinggi di NII yang tidak ikut ikrar, yaitu sebagai anggota KUKT. Masalahnya Fatah mendekam di penjara, tetapi ia dan pengikutnya terus menjalankan roda pemerintah NII dari penjara dengan mengangkat Yusuf Thohiri sebagai imam pada 1994, sebelum Fatah keluar penjara dan menjadi imam NII tahun 1996. Ali Mahfud meneruskan menjadi imam NII kelompok ini, dengan suksesi yang tragis, karena imam pengganti Kartosoewirjo, Abdul Fatah Wiranggapati diberhentikan akibat beberapa pernyatannya di majalah Ummat yang mengakui Pancasila (Mahfud, 2002).
Ikrar setia itu sendiri dibarengi dengan pemberian fasilitas-fasilitas, yang oleh Ken Konboy (2006) disebut jatah minyak untuk AD kemudian dialihkan ke senior-senior DI. Di manapaun terjadi ikrar, Pitut Soeharto, perwira di Bakin yang ditugasi datang ke berbagai acara ikrar hingga akrab dengan orang-orang dari sayap militer NII. Sementara Danu M Hassan, seorang komandan senior NII dan ayah dari Helmi Aminudin (tokoh PKS) pasca ikrar setia juga kemudian bekerja di Bakin. Lewat orang ini yang matinya misterius, kemudian kontak-kontak dengan NII dilakukan.
Berawal dari Aceng Kurnia, juga salah satu komandan NII, yang menurut ICG (2005), adalah tokoh pemula yang merintis berkumpulnya eks NII. Aceng bersama Tahmid (anak Kartosoewirjo) mendirikan PRTI (Pergerakan rumah tangga Islam), dan dari sini disusunlah rencana memepertemukan tokoh-tokoh NII. Dengan dibantu Danu yang sudah bekerja di Bakin, pertemuan bisa dilaksanakan, sehingga mengkristal menjadi pertemuan akbar dari berbagai kelompok. Pertemuan ini dikenal pertemuan Mahoni tahun 1974 yang mempertemukan banyak komandan NII. Hasilnya mengangkat Daud Beureuh sebagai imam KPSI (Komandan Perang Seluruh Indonesia) dan membentuk NII struktural.
Saat bersamaan, kelompok yang lain juga muncul. Kelompokfillah di bawah kepemimpinan kolektif Djaja Sudjadi dan Kadar Solihat membawahi ulama-ulama NII dan meneruskan perjuangan dengan menggarap dunia pendidikan dan pesantren: tidak menyetujui cara militer sebelum dilakukan pembianaan kepada umat. Umar Abduh (2006), menyebut kelompok ini lahir setelah adanya ikrar bersama para komandan militer NII. ICG (2005) menyebut kelompok ini lahir setelah kepemimpinan kolektif NII dari berbagai faksi tahun 70-an terpecah. Faksi sipil membentuk fillah di bawah kepemimpinan kolektif Djaja Sudjadi dan Kadar Solihat. Tetapi sebuah tulisan dalam bentuk Peta NII dari Cedsos yang menurut informasi seorang kawan ditulis Aditjondro menyebut kelompok ini memisahkan diri dari kepemimpinan kolektif setelah 20-an tokohnya dibunuh kelompok NII struktural di bawah kelompok Adah Djaelani yang pernah ikut ikrar setia kepada RI tahun 1962.
Mulai tahun 1975, NII struktural melakukan persiapan-persiapan komando jihad (beberapa gereja jadi sasaran di sampign sebuah acara MTQ), diikuti teror Warman (oleh mereka disebut kesyahidan Warman), direkrutnya generasi-generasi baru (ICG menyebut salah satunya Abdullah Sungkar dan Baasyir), dan mulai digantinya metode perang (tanpa persiapan perekrutan umat) dengan model usroh untuk merekrut anggota baru. Karena kasus Komji, banyak pemimpin NII yang ditangkap, tetapi cara usroh berkembang pesat, dan yang menonjol dikembangkan oleh Solo-Jateng (di bawah pengaruh Abdullah Sungkar) dan Jakarta di bawah KW-9 (Komandemen Wilayah) yang dikemudian hari dikendalikan Abu Toto.
Tahun 1979, NII dipimpin oleh Adah Djaelani. Beberapa sumber menyebutkan dengan cara melakukan pembunuhan terhadap pesaing kuat dari sayap fillah, Djaja Sujadi dan beberapa pengikutnya. Tetapi akibat Komji para pemimpin NII terus diburu, yang menurut Umar Abduh (2006) ditangkaplah: “Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng Kurnia, dll. Mereka ini ditangkap sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981. Hanya sekitar 30 elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, dan selebihnya dibebaskan bersyarat oleh Opsus, termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9, kecuali satu nama tokoh, yaitu Menlu kabinet NII yang bernama Helmi Aminuddin bin Danu (sekarang orang ini menjadi sesepuh di PKS) yang masuk penjara.”
Penangkapan-penangkapan dan dihukumnya banyak elit NII, nyaris NII mengalami kelumpuhan, sampai dibebaskannya Ajengan Masduki dari penjara dan diangkat sebagai imam pada tanggal 4 November 1987 oleh Majelis Syuro NII yang berkumpul di Babakan Ciamis. Pada masa inilah ICG (2005) menyebut, Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar masuk ke dalam kabinet NII masa Ajengan Masduki, tetapi mereka berpecah dengan Masduki dan kemudian Sungkar membentuk apa yang di kemudian hari disebut dengan Jamaah Islamiyah pada 1 Januari 1993.
Perpecahan terjadi lagi di KW-9 yang merupakan pusat perekrutan dengan cara Usroh yang sangat massif. Saat Adah Djaelani pada akhirnya dibebaskan tahun 1994 (NII sudah diambil alih Ajengan Masduki) hubungan antara AS Panji Gumilang yang sudah dirintis sejak Adah dipenjara menjadi sangat erat. Pada Oktober 1996, tanpa konsultasi apa pun Adah mengeluarkan fatwa yang menggantikan Tahmid dengan Abu Toto sebagai kepala staf NII. Keputusan tersebut memancing amarah sejumlah besar anggota senior NII termasuk Gaos Taufik dan Mia Ibrahim. Mereka ini tidak mengakui Adah sebagai imam. Ahmad Hussein dan Ules Sudjai yang anggota veteran NII lain mendukung Adah, sementara fraksi Tahmid-Gaos Taufik mengangkat Mahfudz Siddiq sebagai ketua KW9. Terjadi kepemimpinan kembar di KW-9, yang kemudian hari kelompok Abu Toto menjadi faksi sendiri dengan pengikut yang besar.
Sampai di sini, kepentingan politik mewarnai hubungan-hubungan NII dengan Bakin sampai dipenjaranya banyak elit NII, dimana memang pertemuan awal NII justru difasilitasi oleh Bakin. Ken Konboy (2006) menyebut dalam kasus Komji hubungan itu untuk kepentingan pemenangan Golkar dan memancing keluar cara klandestin NII. Menurut Konboy yang mewawancarai PitutSoeharto (orang Bakin yang berhubungan dengan NII selain Danu) menyebutkan: “Pitut saat itu mendapat kenaikan pangkat Letnan Kolonel, karena berhasil memenangkan hati sebagian komandan NII, yang menurut Pitut sendiri, hanya sepertiga dari 26 pemimpin inti yang berhasil diajak kerjasama (yang itu berarti sebagian besarnya tetap kritis dan menolak).”
Yang sangat jelas, hubungan-hubungan Bakin dan NII bagi orang NII sendiri yang diwawancarai ICG (2005) misalnya menyebutkan: “Karena badan intel menanamkan begitu banyak orangnya di dalam organisasi DI (Darul Islam), mereka menjadi buta terhadap agenda DI sesungguhnya, karena berasumsi bahwa orang-orang tersebut utamanya bekerja untuk pemerintah, ketimbang untuk diri sendiri serta gerakan DI.” Dalam kasus Komji dan pemanfaatan sayap militer NII oleh Bakin, tampaknya ada upaya saling memanfaatkan antara NII-Bakin sesuai dengan kepentiungannya: Bakin ingin NII mendukung Golkar dan NII melihat itu sebagai kesempatan pertama untuk melakukan perang gerilya dan show of force.
Melihat kasus ikrar tahun 1962, Komji, terror Warman, membentuk Usroh, sebagian ikut gerakan di Talangsari (terutama dari Ring Condet), sampai terpecahnya kepemimpinan NII di bawah Ajengan Masdukui dengan Sungkar pada 1 Januari 1993, para pengamat berbeda-beda dalam melihat hubungan dengan Bakin-militer. Sebagian menyebut gerakan NII sebagai kreasi militer seperti Umar Abduh dan Aditjondro, sebagian menyebut murni gerakan NII seperti Widjiono Wasis, dan penulis sendiri menyebut saling memanfaatkan antara keduanya. Di tengah kontroversi ini, pertemuan NII diadakan secara besar-besaran di Cisarua pada Desember 1998, yang bertujuan mempertemukan berbagai kelompok, dan banyak generasi-generasi baru yang ikut hadir.
Ternyata hasil dari pertemuan ini tidak memuaskan. Tidak ada keputusan pengangkatan imam baru, dan malah menambah perpecahan di tubuh NII. Adah Djaelani tidak lagi diakui sebagai imam dan jadilah kelompok sendiri. Ajengan Masduki membentuk kelompok sendiri. Tahmid juga membentuk kelompok sendiri. Hingga pada 2001, al-Chaidar menyebutkan ada lebih dari 10 kelompok NII. Aditjondro dalam Peta NII menyebut jauh lebih banyak dan ada perbedaannaya dengan yang disebut Al-Chaidar. ICG menyebut lahirnya kelompok-kelompok baru seperti Ring Banten di bawah Kang Djaja di mana Imam Samudra bagian dari kader Ring Banten ini; Batalyon Abu Bakar yang salah satu kompinya membentuk AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara); terbentuknya Jamaah Islamiyah, dan lain-lain.
Perpecahan-perpecahan di tubuh NII ini menandai jenis lain dari pembaruan-pembaruan yang dilakukan generasi barunya yang tak pernah mati: ada yang melakukan pengeboman-pengeboman ke gereja-gereja pada tahun 2000-an (dan ini tidak dilakukan NII dulu); tetapi juga ada yang menekuni dunia pendidikan semata seperti kelompok fillah (ini tidak dilakukan NII dulu); tetapi juga ada yang mengabsyahkan cara-cara fa’i (merampok harta orang kafir yang diilhami cara-cara komandan NII Jawa Barat NII di masa awal) di mana mereka yang mengakui Pancasila dan Negara NKRI adalah musuh dan dianggap kafir; dan ada juga jenis-jenis yang lain.Generasi baru NII menafsirkan dengan cara mereka sendiri di tengah kesulitan-kesulitan mereka mengambil posisi di level nasional dan internasional. ***
Dirangkum dari buku “Regenerasi NII: Membedah Islam Jihadi di Indonesia” (nur khalik ridwan, Erlangga, 2008) dan berbagai sumber. Pernah dimuat di Majemuk, majalah ICRP.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar